Kita bebas, berpikir bahwa kita lah pemeran utama,
kita bebas, bercumbu dengan siapa saja yang di sukai,
aku tak terbendung, kau tak tertahankan,
Kita bebas, tak perlu saling mengintip.
lihat saja langit,awan yang berarak itu tetap sama,
jika akhir adalah permulaan bagi sesuatu yang baru untuk memulai.
mau kah kau melewati akhir itu?
kau tak perlu risau jika tak mampu, ini berat
kembali lah pada dia atau yang seperti dia.
Aku taklukkan akhir itu, biar kau tau. aku bajingan yang benar-benar berbeda.!!!”
Haruskah kita melangkah kan kaki di antara nisan yang berbaris.
Dan badai musim ini, akan menjadi sesuatu yang janggal.
Bayang kan kita lebih tinggi dari gagak yang melambung..
Dan bernapas angkuh layaknya firaun...
Tragisnya kita jatuh melesat kebawah bagaikan anak panah.
Suara ini tetap bergema!!! .
.
.
.Kita adalah Hati....
Yang tak pernah di beli atau pun tergadaikan oleh dunia.
Kita adalah Hati...
Yang meredam manis ucapan....
Kita adalah Hati...
Yang tak sebanding dengan bangkai munafik...
Kita adalah hati.....
Dan masa depan mengalir di antara tulang ini
Dan kita adalah Hati..
Yang selamanya berdoa
Senja berkata, "jangan mengagumiku, aku tak ada disepanjang waktu. Tunggu aku, saat mentari menyeberang batas antara ada dan tak ada. Aku hanya sekilas, sesudahnya aku hanya ketiadaan.
Mereka ada tapi entah yang mana, dibalik pelangi, emas, senja, rasa atau kotoran anjing sekalipun. Aku tak peduli nama, aku hanya ingin tau apa yang sebenarnya milikku.
Senja tak pernah sempurna, akan kubiarkan ia menjelma menjadi jingga dengan segala isi kelabunya. Bukan tentang apa itu yang kau sebut hidup sempurna, namun lebih toleran terhadap sesuatu.
Senja tak pernah menyalahkan awan kelabu yang sering menutupi keindahan dirinya.
Senja sebuah lambang keikhlasan hati terdalam, menerima segala garis yang telah digariskan.
Ku nikmati rindu yang tercipta oleh lengkung jingga, bersama adukan kopi mencoba untuk bernostalgia dan melupakan segenap prahara yang ada.
Saat separuh bumi gelap, langit menyisakan sedikit cahaya jingga untuk kita. Kita bisa memandanginya bersama, berdua, sendiri atau malah berlalu begitu saja tanpa pernah tau artinya.
Senja tak pernah salah. Hanya kenangan yang kadang membuatnya basah. Dan pada senja, akhirnya kita mengaku kalah.
Pada akhirnya senja hanya semakin menjauh. Namun ia tak pernah sanggup melenyapkan cinta yang paling diam dari pandangan mata, apalagi hati. Lalu aku hanya menunggunya saat magrib tiba.
Setiap deret sajak'ku adalah senja, yang mungkin menjadi nyata saat kau mencintai penulisnya.